Ahok divonis 2 Tahun seperti yang dikutip dari detik.com, berikut ini 4 faktanya yang disadur secara bebas dari detik.com dengan tanpa merubah maksud dan makna artikel.

Jakarta detik.com – Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal Ahok divonis 2 tahun karena terbukti lakukan tindak pidana dalam Pasal 156a huruf a KUHP yaitu dengan cara berniat di depan umum keluarkan perasaan atau lakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan pada satu agama. Karenanya Ahok divonis 2 tahun hukuman penjara.

Diluar itu, majelis hakim juga memerintahkan supaya Ahok ditahan. Saat ini Ahok sudah ada dirumah tahanan (rutan) Cipinang, Jakarta Timur. Ahok sendiri mengakui bakal ajukan banding pada vonis 2 tahun penjara itu.

Sebelum sampaikan amar putusan, hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto membacakan beberapa hal yang dikira memperingan serta memberatkan putusan Ahok sepanjang proses persidangan berlangsung.

Ahok Divonis 2 Tahun dan Faktanya

“Hal yang memberatkan yaitu terdakwa sama sekali tidak merasa bersalah, perbuatan terdakwa telah mencederai umat Islam, perbuatan terdakwa bisa memecah kerukunan umat beragama serta golongan. Sedang hal yang memperingan yaitu terdakwa berlaku sopan di persidangan, terdakwa kooperatif sepanjang sistem persidangan,” kata Dwiarso.
Dari catatan detikcom, ada 4 fakta putusan hakim yang mengatakan kalau Ahok dapat dibuktikan bersalah. Berikut ini adalah fakta faktanya :

Majelis hakim menilai Ahok dengan sengaja kemukakan perihal Surat Al-Maidah ayat 51 pada waktu berpidato di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016.

Unsur dengan sengaja inilah yang dibuktikan lewat pertimbangan yang di sampaikan oleh majelis hakim.
Awalannya, majelis hakim melihat satu per satu unsur Pasal 156a huruf a KUHP sesuai dengan dakwaan alternatif pertama yang telah didakwakan kepada Ahok. Majelis hakim juga menuturkan mengenai apakah hal yang di sampaikan Ahok disengaja atau tidak. ini adalah fakta pertama kenapa Ahok Divonis 2 Tahun.

“Menimbang bahwa yang dimaksud dengan sengaja adalah menghendaki dan mengetahui,” tutur majelis hakim membacakan pertimbangan vonis Ahok di auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).

Kemudian, Hakim menerangkan Ahok juga sudah menulis buku berjudul ‘Merubah Indonesia’ pada 2008. Dalam buku itu, Ahok menulis mengenai Al-Maidah ayat 51 di halaman 40 dengan subjudul ‘Berlindung di Balik Ayat Suci’.

“Menimbang bahwa fakta hukum tersebut menunjukkan terdakwa sudah tahu dan paham ayat suci agama Islam, kitab suci agama Islam, maka harus dihargai dan dihormati, baik umat Islam maupun umat agama lain, termasuk terdakwa. Hal ini berlaku juga bagi kitab dari agama lain,” tutur majelis hakim.

Dengan hal tersebut, hakim menilainya unsur dengan sengaja dalam pidato Ahok itu sudah tercukupi. “Disampaikan di tengah kunjungan kerja, kepada warga masyarakat Kepulauan Seribu, dalam hal ini tentu adalah memang dikehendaki dan diketahui, dalam menyampaikan adalah dilakukan dengan sengaja,” jelas majelis hakim.

Ahok disebut tidak berhati-hati terkait dengan penyebutan surat Al-Maidah ayat 51 kala bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu.

Menurut Majelis hakim, seharusnya Ahok lebih berhati-hati memilih kata-kata yang tepat saat menyebutkan surat tersebut. Ini adalah fakta kedua atas Ahok Divonis 2 Tahun.

“Terdakwa sebagai orang beragama, apalagi ingin menyebut simbol keagamaan di depan umum, seharusnya terdakwa berhati-hati dan harus menghindari penggunaan kata konotasi negatif yang bersifat merendahkan, melecehkan, atau menghina simbol keagamaan tertentu, baik itu agama lain maupun agama terdakwa sendiri. Karena hal itu bisa menimbulkan keresahan kalangan umat beragama, kecuali kajian ilmiah terbatas,” kata majelis hakim saat membacakan pertimbangan hukum dalam sidang vonis Ahok di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).

Majelis hakim juga singgung keterangan Ahok pada pemeriksaan terdakwa yang mengaku mengingat Pilkada Bangka Belitung saat berada di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016.

“Terdakwa terbayang saat di Bangka Belitung, jangan-jangan ini karena pengaruh Al-Maidah. Karena waktu terdakwa ikut pemilihan Babel, ada ibu-ibu tidak mau memilih terdakwa karena Surat Al-Maidah sehingga membuat terdakwa mengucapkan Al-Maidah. Menurut pengadilan adalah alasan ini tidak dapat diterima karena itu hanyalah asumsi terdakwa yang tidak didukung bukti,” sambung majelis hakim.

Ahok, menurut majelis hakim, tidak bertanya langsung tentang alasan saat diamnya ibu tersebut kala Ahok sampaikan sambutan tersebut.

Majelis hakim menyebutkan Ahok telah merendahkan Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pidato sambutan kepada warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Ahok, menurut hakim, berasumsi Surat Al-Maidah 51 sebagai alat kebohongan, karenanya Ahok Divonis 2 Tahun.
“Dari ucapan tersebut, terdakwa telah menganggap Surat Al-Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat atau Surat Al-Maidah 51 sebagai sumber kebohongan. Dan dengan adanya anggapan demikian, maka menurut pengadilan terdakwa telah merendahkan dan menghina Surat Al-Maidah ayat 51,” kata hakim saat membacakan pertimbangan hukum didalam sidang vonis Ahok di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).

Pernyataan Ahok yang disebut majelis hakim di sampaikan dalam kunjungan pada 27 September 2016 berkaitan dengan budidaya ikan kerapu.

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? Dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan nggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa,” begitu salah satu penggalan pernyataan Ahok yang dibacakan berulang-ulang.

“Dari ucapannya tersebut, terdakwa jelas menyebut Surat Al-Maidah yang dikaitkan dengan kata ‘dibohongi’. Hal ini mengandung makna yang negatif. Bahwa terdakwa telah menilai dan mempunyai anggapan bahwa orang yang menyampaikan Surat Al-Maidah ayat 51 kepada umat atau masyarakat terkait pemilihan adalah bohong dan membohongi umat atau masyarakat, sehingga terdakwa sampai berpesan kepada masyarakat di Kepulauan Seribu dengan mengatakan jangan percaya sama orang, dan yang dimaksud yang adalah jelas orang yang menyampaikan Al-Maidah ayat 51,” ungkapan hakim dalam pertimbangan hukum.

Majelis hakim menyatakan Surat Al-Maidah ayat 51 yaitu ayat Alquran, bagian yang terdapat dalam Alquran, kitab suci agama Islam yang sangat dijaga kesuciannya.

“Siapa pun yang menyampaikan ayat Alquran sepanjang ayatnya disampaikan dengan benar, maka hal itu tidak boleh membohongi umat atau masyarakat. Oleh karena Surat Al-Maidah bagian kitab suci Alquran, maka dengan merendahkan, melecehkan Surat Al-Maidah ayat 51, sama halnya melecehkan kitab suci Alquran,” ungkap Majelis Hakim.

Majelis hakim sebut Ahok selama ini merupakan pelaku yang menyebabkan kegaduhan yang terjadi.

Majelis hakim nyatakan kurang sepaham dengan pembelaan yang disampaikan oleh pengacara Ahok yang mengatakan Ahok merupakan korban dari antikeberagaman. namun menurut majelis hakim, Ahok adalah pelaku yang timbulkan kegaduhan selama ini, karenanya Ahok Divonis 2 Tahun.

“Bahwa pembelaan penasihat hukum diberi judul ‘Terkoyaknya Kebinekaan’, pengadilan tidak sependapat, karena kasus terdakwa murni merupakan kasus pidana yabng digambarkan penasihat hukum seolah-olah terdakwa korban antikeberagaman berdasarkan SARA,” papar majelis hakim.

“Padahal faktanya terdakwa sendirilah sebagai pelaku yang menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat karena ucapannya yang seharusnya terdakwa sebagai gubernur sekaligus pelayan masyarakat harus mempunyai sifat kenegarawanan, selain bersih, tegas jujur dan sopan santun sehingga menjadi tauladan,” ungkap majelis hakim.

“Seharusnya terdakwa bisa menghindari penyebutan simbol keagamaan yang berkonotasi negatif karena sebenarnya hal itu tidak ada kaitan dengan program budidaya ikan,” ujar Majelis hakim.

Ahok dinyatakan majelis hakim terbukti melakukan tindak pidana dalam Pasal 156a KUHP, yakni secara sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama.